Apakah Sepahit
Ini?
(oleh: Muje)
Satu bulan yang lalu menjadi catatan bersejarah bagiku, hari yang
kutunggu-tunggu dalam penantianku akhirnya tiba juga. Bagaimana tidak bahagia,
aku dinyatakan lulus oleh pendidikan tingkat SMK yang selama ini menjadi ruang
untuk mencari bekal dikehidupanku nanti. Gerbang kehidupan yang sesungguhnya
sudah menanti di depan. Berbagai pertanyaan mulai menhujam kepada jiwa yang
penuh dengan kebingungan.
Mau kemanakah setelah ini?.
Ku tetap langkahkan kakiku yang penuh dengan kebimbangan. Yang
jelas aku tidak pernah terbayang aku akan melanjutkan kejenjang yang lebih
tinggi. Aku memang bukan dari keluarga yang mengenal perguruan tinggi.
Sore itu dalam lamunanku datanglah Irwan kawan yang
ku kenal dulu sewaktu kerja. Keadan memang memaksaku untuk berperilaku mandiri,
sewaktu SMK saat libur aku selalu mengisi waktu dengan bekerja di tempat kawan.
“yuk kita main, sekalian anterin aku mau tanya tentang lowongan kerja ke luar
negeri,” ajaknya dengan begitu semangat. Aku langsung terkaget mendengar ajakan
itu, lowongan ke luar negeri kedengaranya sungguh menarik. Membayangkan kerja di luar negeri
dengan penghasilan yang begitu banyak. Aku bisa membahagiakan kedua orang tua ku,
dan aku menjadi orang yang tidak bisa diremehkan di desaku. Sekaligus kekasih
hatiku pasti bangga memiliki calon suami yang mapan. Tentu sebagai calon kepala
rumah tangga haruslah mempersiapkan semuanya sedini mungkin. Aku merajuk cinta
denganya memang dari kelas XI SMK, hanya saja kita
berbeda jurusan. Tapi kita sama-sama saling mencintai bak pasangan yang paling romantis
di sekolahku.
Di sisi lain lingkungan akan menganggapku sebagai orang yang sukses,
karena meskipun aku telah menamatkan wajib belajar 12 tahun. Namun hal itu
belum dianggap sukses, seperti kebanyakan masyarakat massa modern ini mereka
hanya menganggap hartalah yang menjadi tolak ukur
kesuksesan seseorang. Bahkan orang yang pandai mengaji dan ibadah sekalipun
selagi dia tidak mapan dalam masalah duniawinya tentu dia belum dianggap sukses.
“katamu lowongan ke luar negeri?”
“Aku tertarik untuk ikut denganmu,” jawabku dengan bersemangat.
Kami pergi ke tempat yang dituju dengan
menaiki motornya dengan penuh rasa harapan. Aku duduk di belakang, menikmati
desiran angin sore itu bak memberiku dukungan penuh atas
harapanku. Setelah menempuh satu jam akhirnya kita pun sampai di tempat yang ditujuh.
Rumah rindang dengan banyak pepohonan, halaman yang luas di samping kanan
terdapat tumbuhan buah mangga, khas kabupaten daerahku. Samping kiri seperti tanaman bunga yang
dibentuk seperti paying lengkap dengan kolam ikan. Terdapat papan iklan sebelum masuk pintu gerbang rumahnya “Agen
Lowongan kerja, ke luar negeri Malaysia, taiwant, Singapura,
korea dll”. Aku semakin bersemangat ketika sudah memasuki gerbangnya dan
mengetuk pintu kemudian keluarlah laki-laki berkumis tebal.
Setelah melakukan obrolan yang sangat panjang dengan disuguhi kopi
hitam yang kian membuat nikmat. Akhirnya kami selesaikan obrolan itu dan
hasilnya kami bisa mulai keberangkan dua hari setelahnya. Kamipun pulang dengan
penuh rasa percaya diri membayangkan gaji yang begitu besar.
Sepulangnya di rumah aku menceritakan dengan orang tuaku mengenai
rencanaku akan merantau ke luar negeri. Setelah panjang lebar aku menjelaskan ibuku
berusaha mempertanyakan keyakinan ku dengan rencana ini.
“Apakah kamu yakin nak
dengan rencanamu ini, tidak kah disini juga bisa mendapatkan pekerjaan dengan
ijazamu yang kau dapatkan itu?,” katanya yang penuh dengan keheranan
“Tidak tahu mak mengenai lowongan kerja disini, Aku sudah berusaha mencarinya. InsyaAllah aku yakin dengan jalan yang ku pilih ini,”
Kemarin aku sempat ke kota industry untuk
mencari lowongan kerja, namun sayangnyaa tidak ada perusahaan yang mau menerima
lamaranku dengan alas an tidak ada lowongan. Aku
memang tidak tahu apa yang bisa diandalkan dengan ijaza SMK ku ini. Orang tuaku
tentu menyekolahanku agar aku bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik
darinya. Berangkat pagi pulang sore mencari rezeki untuk membiayai sekolah ku
ini. Entahlah aku tak mengerti, mengapa sekolah dengan sistem transaksi jual
beli dengan harga yang sudah dibandrol tetapi tidak menyediakan apa yang saya
dan orang tua inginkan. Nyatanya sekolah tidak bisa membantuku untuk mendapatkan
pekerjaan, padahal aku selalu membayar setiap bulanya dan akhirnya orang tuaku
tidak mendapatkan apa yang ia inginkan. Padahal awalnya aku tertarik masuk SMK
karena jaminan mendapatkan keahlian dan lapangan kerja yang mudah. Namun
nyatanya tidak, aku sudah mencari namun tetap saja tidak mendaptkan apa yang ku
cari. Tidak sedikit temanku yang bernasib sama denganku klantang-klantung dengan ijaza SMK. Selulusnya kami, sekolah pun
seperti angkat tangan. Padahal kami sudah membayarnya namun inilah faktanya
kita tidak mendapatkan apa yang mereka janjikan. Aku merasa sendiri seperti orang buta yang berjalan menyusuri lorong
gelap kehidupan. Bisakah aku menuntut sekolahku karena mereka tidak memberikan
apa yang mereka janjikan. Bisakah
seperti itu?
Aku baru ingat, belum memberikan berita ini
kepada Ilma kekasih hatiku. Dengan menggunakan alat komunikasi peradaban
(baca:Handphone). lincahnya jariku mencari nomor kontaknya, setelah didapat
langsung aku menekan tombol tanda untuk memanggil. Panggilan pertama tidak
mendapatkan jawaban, begitupun dengan panggilan kedua. Yang lebih mengagetkan
panggilan ketiga malah terdengar suara “maaf nomor yang anda tuju sedang tidak
aktiv atau sedang berada di luar jangkauan,”. Memang kemarin sore kita sempat
bertengkar hanya karena dia tidak ingin mempunyai calon suami yang
pengangguran. Aku lihat nadanya penuh ketakutan memang aku sering bercerita
bahwa aku belum saja mendapatkan pekerjaan. Nadaku yang pesimis, bukanya
memberikan dorongan semangat. Bak petir di siang bolong kata-katanyaa
menyambar.
“aku
tidak mau memiliki calon suami yang pengangguran tak jelas modalnya,” serunya
dalam percakapan telvon.
“kamu harus nyari kerja, orang tuaku juga
tidak mau menerima kalau kamu pengangguran,” tambahnya dengan nada yang tetap
tinggi.
Dari percakapan itu aku mulai sadar, semua
yang ku lakukan selama ini terasa sia-sia. Rasa sayang yang ku curahkan dulu,
menjadi angin yang berlalu begitu saja. Rasanya tak adil bagiku, setelah
mendapat predikat penganguran selama satu bulan kehidupanku berubah drastis.
Lingkungan masyarakat di sekitarku berubah memandangku, tak seramah dulu
sewaktu aku bersemangat berangkat ke sekolah. Mereka bangga karena aku yang
bukan dari keluarga yang mampu bisa melanjutkan ke jenjang SMK. Memang di
desaku sangat sedikit sekali kesadaran akan pendidikan, mereka berpikir sekolah
tidak terlalu penting. Tanpa sekolah Anak-anaknya bisa menghasilkan uang, bagi
mereka itu sudah cukup. Seusiaku biasanya bekerja di pabrik penggilingan padi,
atau menjadi pekerja serabutan. Bagi mereka sekolah hanya membuang-buang duit,
pola pikir mereka memang yang terpenting adalah duit wajar saja mereka mengukur
kesuksesan dengan duit. Sehingga kondisi ku yang seperti ini menjadi bahan
omongan di desaku.
Aku masih terbayang dengan sikap Ilma
terhadapku, hidup terasa kejam bagiku. Mengapa dulu wanita yang penuh kasih
terhadapku, berubah menjadi sosok yang kejam tak mengerti. Akhirnya aku hanya
mengirimkan pesan teks dengan harapan dia mau membacanya. “Aku sekarang sudah
bertekaad untuk merantau ke negeri seberang, demi untuk membahagiakanmu aku
rela. Doakan aku agar tetap mampu membahagiakanmu besok aku berangkat ke pelabuhan.”
Tidurku tak nyenyak hanya karena si ilma
belum membalas sms ku. HP (Handphone)
yang berdering tenyata bukan dari Ilma kekasihku melainkan dari Irwan
menanyakan kesiapaan ku. Dia mengingatkan agar dilihat kembali barang bawaan jangan sampai tertinggal. Malam
itu terasa semakin lama dari malam-malam sebelumnya. Angin yang terus berdesir
menerpa jiwaku seakan mengerti aku sedang merindukan Ilma.
Ayam berkokok membangunkan ku dari kejamnya
malam. Aku langsung melihat HP ternyata belum ada balasan dari Ilma. Apa yang
terjadi denganmu wahai kekasih hatiku, tidak kah kau mengerti aku
mengharapkanmu memberikan penyemangat setelah orang tuaku. Pikirku melayang
tentangnya, sembari aku merasakan dinginya air wudhu. Aku tunaikan kewajibanku
sekaligus berdo’a agar selalu dilindungi-Nya dan berharap diberikan yang terbaik.
Setelah selesai aku pergi bergegas menyiapkn segala kebutuhan untuk keberangkatanku.
Setelah dirasa semuanya siap, aku pamit dengan keluargku mncium dan memeluk
kedua orang tua.
“hati-hati nak, doa kami selalu
menyertaimu,” ucap ibuku dengan kasih
“Iya mak doain aku aku selalu ya mak,”
jawabku penuh harap.
Sebelumnya aku sudah janjian dengan Irwan
untuk bertemu di Terminal. Konon katanya nanti kita berangkat dengan calon
pekerja lain. Sesampainya di terminal benar saja banyak seumuranku yang
terpikat untuk ikut merantau ke negeri seberang. Apakah negeri kita ini memang
kehilangan wadah untuk menyejahterkan rakyatnya sehingga harus merantau ke
negeri seberang?. Ini membuatku semakin bertanya-tanya. Fakta membuktikan,
bahwa negeri kita belum bisa menyejahterakan bangsanya. Pengangguran memang
terjadi dimana-mana padahal negeri ini kaya akan sumber daya alamnya. Pikiranku
buyar ketika bus yang kami tunggu datang, kami cepat-cepat bergegas masuk dan
perjuangan pun dimulai.
Setelah sampai di pelabuhan, HPku bergetar
langsung aku meraihnya dari kantong celana. Ternyata pesan dari Ilma kekasihku,
hatiku terasa mengembang sungguh bahagia bak tanah yang gersang kering
kerontang ditetesi embun yang jatuh entah darimana. Dengan semangat aku
bergegas membuka pesan tersebut. “Maaf Dika aku ga bisa lanjutin hubungan kita
ini, mungkin baiknya kita berteman saja,” pesanya bak raja siang yang terang
benerang, membuat tanah yang sempat terkena embun menjadi lebih kering
kerontang, terasa gersang sehingga hanya terlihat kesengsaraan. Segera aku
membalasnya “Ko bisa, aku salah apa? tolong jelaskan!,” namun ternyata pesanku
tidak terkirim, aku segera menelvonya namun hasilnya seperti saat pertama aku
ingin memberitahu rencanaku ini, nomornya tidak aktiv. Tuhan, apa yang sedang engkau berikan kepada
hamba mengapa seperti ini. Aku kesal, ingin marah namun kesiapa, apakah ini
jawaban Tuhan mengenai Doaku?.
Karena pesan itulah jiwaku kian lemas, yang
tadinya penuh semangat menggebu. Mengapa wanita yang dulu kenal penuh kasih
tiba-tiba berubah hanya karena hal semacam ini. Pola pikir macam apa yang Ia
gunakan?. Aku yakin gara-gara aku pengangguran Ilma bersikap seperti itu, namun
tidakah sedikit sabar karena aku sedang berjuang. Bersama desiran ombak yang
menghantam kapal, hatiku juga seperti ikut terhantam. Aku lanjutkan perjuangan
ini berharap Ilma hanya merasa bingung dengan keadaaku ini, sembari aku
mengingat motivasi yang diberikan emak terhadapku. Aku akan tetap merantau ke
negeri seberang, dan aku akan melanjutkan memperjuangkan Ilma setelah ku
dapatkan modal nanti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar