Senin, 25 Mei 2015

Cerita Bersambung.

Apakah Sepahit Ini?
 (oleh: Muje)
Satu bulan yang lalu menjadi catatan bersejarah bagiku, hari yang kutunggu-tunggu dalam penantianku akhirnya tiba juga. Bagaimana tidak bahagia, aku dinyatakan lulus oleh pendidikan tingkat SMK yang selama ini menjadi ruang untuk mencari bekal dikehidupanku nanti. Gerbang kehidupan yang sesungguhnya sudah menanti di depan. Berbagai pertanyaan mulai menhujam kepada jiwa yang penuh dengan kebingungan.
Mau kemanakah setelah ini?.
Ku tetap langkahkan kakiku yang penuh dengan kebimbangan. Yang jelas aku tidak pernah terbayang aku akan melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi. Aku memang bukan dari keluarga yang  mengenal perguruan tinggi.

Sore itu dalam lamunanku datanglah Irwan kawan yang ku kenal dulu sewaktu kerja. Keadan memang memaksaku untuk berperilaku mandiri, sewaktu SMK saat libur aku selalu mengisi waktu dengan bekerja di tempat kawan. “yuk kita main, sekalian anterin aku mau tanya tentang lowongan kerja ke luar negeri,” ajaknya dengan begitu semangat. Aku langsung terkaget mendengar ajakan itu, lowongan ke luar negeri kedengaranya sungguh menarik. Membayangkan kerja di luar negeri dengan penghasilan yang begitu banyak. Aku bisa membahagiakan kedua orang tua ku, dan aku menjadi orang yang tidak bisa diremehkan di desaku. Sekaligus kekasih hatiku pasti bangga memiliki calon suami yang mapan. Tentu sebagai calon kepala rumah tangga haruslah mempersiapkan semuanya sedini mungkin. Aku merajuk cinta denganya memang dari kelas XI SMK, hanya saja kita berbeda jurusan. Tapi kita sama-sama saling mencintai bak pasangan yang paling romantis di sekolahku.
Di sisi lain lingkungan akan menganggapku sebagai orang yang sukses, karena meskipun aku telah menamatkan wajib belajar 12 tahun. Namun hal itu belum dianggap sukses, seperti kebanyakan masyarakat massa modern ini mereka hanya menganggap hartalah yang menjadi tolak ukur kesuksesan seseorang. Bahkan orang yang pandai mengaji dan ibadah sekalipun selagi dia tidak mapan dalam masalah duniawinya tentu dia belum dianggap sukses.
“katamu lowongan ke luar negeri?”
“Aku tertarik untuk ikut denganmu,” jawabku dengan bersemangat.
Kami pergi ke tempat yang dituju dengan menaiki motornya dengan penuh rasa harapan. Aku duduk di belakang, menikmati desiran angin sore itu bak memberiku dukungan penuh atas harapanku. Setelah menempuh satu jam akhirnya kita pun sampai di tempat yang ditujuh. Rumah rindang dengan banyak pepohonan, halaman yang luas di samping kanan terdapat tumbuhan buah mangga, khas kabupaten daerahku. Samping kiri seperti tanaman bunga yang dibentuk seperti paying lengkap dengan kolam ikan. Terdapat papan iklan sebelum masuk pintu gerbang rumahnya “Agen Lowongan kerja, ke luar negeri Malaysia, taiwant, Singapura, korea dll”. Aku semakin bersemangat ketika sudah memasuki gerbangnya dan mengetuk pintu kemudian keluarlah laki-laki berkumis tebal.
Setelah melakukan obrolan yang sangat panjang dengan disuguhi kopi hitam yang kian membuat nikmat. Akhirnya kami selesaikan obrolan itu dan hasilnya kami bisa mulai keberangkan dua hari setelahnya. Kamipun pulang dengan penuh rasa percaya diri membayangkan gaji yang begitu besar.
Sepulangnya di rumah aku menceritakan dengan orang tuaku mengenai rencanaku akan merantau ke luar negeri. Setelah panjang lebar aku menjelaskan ibuku berusaha mempertanyakan keyakinan ku dengan rencana ini.

 “Apakah kamu yakin nak dengan rencanamu ini, tidak kah disini juga bisa mendapatkan pekerjaan dengan ijazamu yang kau dapatkan itu?,” katanya yang penuh dengan keheranan
“Tidak tahu mak mengenai lowongan kerja disini, Aku sudah berusaha mencarinya. InsyaAllah aku yakin dengan jalan yang ku pilih ini,”

Kemarin aku sempat ke kota industry untuk mencari lowongan kerja, namun sayangnyaa tidak ada perusahaan yang mau menerima lamaranku dengan alas an tidak ada lowongan. Aku memang tidak tahu apa yang bisa diandalkan dengan ijaza SMK ku ini. Orang tuaku tentu menyekolahanku agar aku bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik darinya. Berangkat pagi pulang sore mencari rezeki untuk membiayai sekolah ku ini. Entahlah aku tak mengerti, mengapa sekolah dengan sistem transaksi jual beli dengan harga yang sudah dibandrol tetapi tidak menyediakan apa yang saya dan orang tua inginkan. Nyatanya sekolah tidak bisa membantuku untuk mendapatkan pekerjaan, padahal aku selalu membayar setiap bulanya dan akhirnya orang tuaku tidak mendapatkan apa yang ia inginkan. Padahal awalnya aku tertarik masuk SMK karena jaminan mendapatkan keahlian dan lapangan kerja yang mudah. Namun nyatanya tidak, aku sudah mencari namun tetap saja tidak mendaptkan apa yang ku cari. Tidak sedikit temanku yang bernasib sama denganku klantang-klantung dengan ijaza SMK. Selulusnya kami, sekolah pun seperti angkat tangan. Padahal kami sudah membayarnya namun inilah faktanya kita tidak mendapatkan apa yang mereka janjikan. Aku merasa sendiri seperti orang buta yang berjalan menyusuri lorong gelap kehidupan. Bisakah aku menuntut sekolahku karena mereka tidak memberikan apa yang mereka janjikan. Bisakah seperti itu?
Aku baru ingat, belum memberikan berita ini kepada Ilma kekasih hatiku. Dengan menggunakan alat komunikasi peradaban (baca:Handphone). lincahnya jariku mencari nomor kontaknya, setelah didapat langsung aku menekan tombol tanda untuk memanggil. Panggilan pertama tidak mendapatkan jawaban, begitupun dengan panggilan kedua. Yang lebih mengagetkan panggilan ketiga malah terdengar suara “maaf nomor yang anda tuju sedang tidak aktiv atau sedang berada di luar jangkauan,”. Memang kemarin sore kita sempat bertengkar hanya karena dia tidak ingin mempunyai calon suami yang pengangguran. Aku lihat nadanya penuh ketakutan memang aku sering bercerita bahwa aku belum saja mendapatkan pekerjaan. Nadaku yang pesimis, bukanya memberikan dorongan semangat. Bak petir di siang bolong kata-katanyaa menyambar.
 “aku tidak mau memiliki calon suami yang pengangguran tak jelas modalnya,” serunya dalam percakapan telvon.
“kamu harus nyari kerja, orang tuaku juga tidak mau menerima kalau kamu pengangguran,” tambahnya dengan nada yang tetap tinggi.
Dari percakapan itu aku mulai sadar, semua yang ku lakukan selama ini terasa sia-sia. Rasa sayang yang ku curahkan dulu, menjadi angin yang berlalu begitu saja. Rasanya tak adil bagiku, setelah mendapat predikat penganguran selama satu bulan kehidupanku berubah drastis. Lingkungan masyarakat di sekitarku berubah memandangku, tak seramah dulu sewaktu aku bersemangat berangkat ke sekolah. Mereka bangga karena aku yang bukan dari keluarga yang mampu bisa melanjutkan ke jenjang SMK. Memang di desaku sangat sedikit sekali kesadaran akan pendidikan, mereka berpikir sekolah tidak terlalu penting. Tanpa sekolah Anak-anaknya bisa menghasilkan uang, bagi mereka itu sudah cukup. Seusiaku biasanya bekerja di pabrik penggilingan padi, atau menjadi pekerja serabutan. Bagi mereka sekolah hanya membuang-buang duit, pola pikir mereka memang yang terpenting adalah duit wajar saja mereka mengukur kesuksesan dengan duit. Sehingga kondisi ku yang seperti ini menjadi bahan omongan di desaku.
Aku masih terbayang dengan sikap Ilma terhadapku, hidup terasa kejam bagiku. Mengapa dulu wanita yang penuh kasih terhadapku, berubah menjadi sosok yang kejam tak mengerti. Akhirnya aku hanya mengirimkan pesan teks dengan harapan dia mau membacanya. “Aku sekarang sudah bertekaad untuk merantau ke negeri seberang, demi untuk membahagiakanmu aku rela. Doakan aku agar tetap mampu membahagiakanmu besok aku berangkat ke pelabuhan.”

Tidurku tak nyenyak hanya karena si ilma belum membalas sms ku. HP (Handphone) yang berdering tenyata bukan dari Ilma kekasihku melainkan dari Irwan menanyakan kesiapaan ku. Dia mengingatkan agar dilihat kembali  barang bawaan jangan sampai tertinggal. Malam itu terasa semakin lama dari malam-malam sebelumnya. Angin yang terus berdesir menerpa jiwaku seakan mengerti aku sedang merindukan Ilma.

Ayam berkokok membangunkan ku dari kejamnya malam. Aku langsung melihat HP ternyata belum ada balasan dari Ilma. Apa yang terjadi denganmu wahai kekasih hatiku, tidak kah kau mengerti aku mengharapkanmu memberikan penyemangat setelah orang tuaku. Pikirku melayang tentangnya, sembari aku merasakan dinginya air wudhu. Aku tunaikan kewajibanku sekaligus berdo’a agar selalu dilindungi-Nya dan berharap diberikan yang terbaik. Setelah selesai aku pergi bergegas menyiapkn segala kebutuhan untuk keberangkatanku. Setelah dirasa semuanya siap, aku pamit dengan keluargku mncium dan memeluk kedua orang tua.

“hati-hati nak, doa kami selalu menyertaimu,” ucap ibuku dengan kasih
“Iya mak doain aku aku selalu ya mak,” jawabku penuh harap.

Sebelumnya aku sudah janjian dengan Irwan untuk bertemu di Terminal. Konon katanya nanti kita berangkat dengan calon pekerja lain. Sesampainya di terminal benar saja banyak seumuranku yang terpikat untuk ikut merantau ke negeri seberang. Apakah negeri kita ini memang kehilangan wadah untuk menyejahterkan rakyatnya sehingga harus merantau ke negeri seberang?. Ini membuatku semakin bertanya-tanya. Fakta membuktikan, bahwa negeri kita belum bisa menyejahterakan bangsanya. Pengangguran memang terjadi dimana-mana padahal negeri ini kaya akan sumber daya alamnya. Pikiranku buyar ketika bus yang kami tunggu datang, kami cepat-cepat bergegas masuk dan perjuangan pun dimulai.

Setelah sampai di pelabuhan, HPku bergetar langsung aku meraihnya dari kantong celana. Ternyata pesan dari Ilma kekasihku, hatiku terasa mengembang sungguh bahagia bak tanah yang gersang kering kerontang ditetesi embun yang jatuh entah darimana. Dengan semangat aku bergegas membuka pesan tersebut. “Maaf Dika aku ga bisa lanjutin hubungan kita ini, mungkin baiknya kita berteman saja,” pesanya bak raja siang yang terang benerang, membuat tanah yang sempat terkena embun menjadi lebih kering kerontang, terasa gersang sehingga hanya terlihat kesengsaraan. Segera aku membalasnya “Ko bisa, aku salah apa? tolong jelaskan!,” namun ternyata pesanku tidak terkirim, aku segera menelvonya namun hasilnya seperti saat pertama aku ingin memberitahu rencanaku ini, nomornya tidak aktiv.  Tuhan, apa yang sedang engkau berikan kepada hamba mengapa seperti ini. Aku kesal, ingin marah namun kesiapa, apakah ini jawaban Tuhan mengenai Doaku?.


Karena pesan itulah jiwaku kian lemas, yang tadinya penuh semangat menggebu. Mengapa wanita yang dulu kenal penuh kasih tiba-tiba berubah hanya karena hal semacam ini. Pola pikir macam apa yang Ia gunakan?. Aku yakin gara-gara aku pengangguran Ilma bersikap seperti itu, namun tidakah sedikit sabar karena aku sedang berjuang. Bersama desiran ombak yang menghantam kapal, hatiku juga seperti ikut terhantam. Aku lanjutkan perjuangan ini berharap Ilma hanya merasa bingung dengan keadaaku ini, sembari aku mengingat motivasi yang diberikan emak terhadapku. Aku akan tetap merantau ke negeri seberang, dan aku akan melanjutkan memperjuangkan Ilma setelah ku dapatkan modal nanti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar