Senin, 11 Mei 2015

Kado Terakhir dari Jogja





Malam terakhir sahabatku berada di Yogyakarta. sebut saja Pipit Dia datang dari daerah yang cukup jauh, kota Batam tepatnya. Dengan menaiki burung besi, berniat menikmati kota yang terkenal dengan wisatanya. aku ingin menemaninya menikmati malioboro saat malam, yang tentu berbeda suasananya  ketika siang.
“ Mas ayo katanya ke malioboro jadi ga?” tanya pipit melalui pesan singkat.
“Iya bentar, ini aku lagi nganter temen pulan dulu”, jawabku agak terburu-buru.
Selesai mengantar teman kampus, aku langsung meng-geber sepeda motorku, karena mengejar waktu yang menunjukan pukul 20:10. Sesekali aku berjalan merayap karena kebetulan malam minggu, ya tau sendiri banyak muda-mudi yang keluar ingin menikmati malam minggu.
Setelah aku sampai di tempat sahabat aku, rupanya dia sudah dalam keadaan siap. Dengan ekspresi yang agak cemberut karena mungkin lama menunggu, akupun segera menyuruhnya untuk segera naik karena waktu saat itu sudah menunjukan pukul 21:00. Bukan karena takut semakin malam Yogyakarta semakin sepi, tetapi aku dengar ibu kos temanya itu tidak suka kalau ada penghuninya pulang larut malam.
Rute malam ini kami ingin menikmati malam minggu di malioboro, kemudian tujuan akhirnya  mengunjungi Tugu Jogja. Belum sampai di tempat tujuan, ternyata pipit mendapatkan pesan singkat dari temanya nyiputihal “ sory pit, ibu kosku tadi marah-marah karena tadi dia liat km keluar, sebaiknya km nginep di tempat widia maaf banget”,
pesan singkat itu membuat pipit bingung, “ gimana ni mas, aku mesti tidur dimana?”, tanyanya terlihat gelisah.
“masa aku mesti tidur di jalan”, tambahnya
“tenang pit, kan masih banyak teman nanti aku yang ngatur”, jawabku sembari menenangkanya
Putihal, widia, maupun pipit adalah sama-sama teman SMA ku dulu di Indramayu. Kebetulan di jogja banyak alumni yang melanjutkan kuliah disini.
Kami terus melanjutkan perjalanan melewati tugu jogja, aku tau si pipit pengen banget berhenti  tapi aku berniat setelah dari malioboro baru kita explore Tugu jogja, biar agak sepian.
Sampailah kami di lampu merah terakhir menuju Malioboro, setelah itu ada penunjuk jalan arah panah kiri mengarah ke malioboro, dan kanan ke arah Sarkem (Pasar Kembang). Seperti biasa malioboro tidak pernah sepi dari pecandunya, baik untuk wisata kuliner maupun hanya menikmati suasana malam di salah satu ikon jogja ini, terlihat hampir sepanjang jalan banyak orang-orang yang menjajakan daganganya ada yang kuliner, pakaian dan sebagainya. Pengamen pun tak luput meramaikan suasana malam di Malioboro. Belum sempat aku memarkirkan kuda besi ku, aku merasa ada sesuatu yang dirasakan oleh kulit tanganku, seuatu yang aku khawatirkan menjadi kenyataan. Langit malam saat itu memang mendung, meskipun aku mencoba untuk mempercayai kata-kata “mendung tak berarti hujan”, tapi kata-kata itu seolah luntur dari pikiranku, sejalan dengan tetesan air hujan yang melunturkan keringat di tanganku. Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya tubuh kami menyerah pada hujan dan segera mencari tempat parkir, agar bisa sekalian berteduh.
Terlihat, orang-orang berkerumun. Bukan sedang meributkan sesuatu, mereka hanya mengobrol satu sama lain sembari menunggu hujan reda, mungkin mereka satu rombongan. Pedagang-pedagang sibuk memasang penutup atap untuk mengamankan daganganya. Kami duduk di samping depan pasar Bring Harjo.
“ya semoga hujanya bentar aja ya pit, biar bisa ke 0 KM”, kata ku sambil menggosok, kedua  telapak tanganku.
“iya mas, aku juga ngarepnya gitu”, ujar pitri penuh harap.
“masa malam terakhir di jogja, kita dihujanin ya”, tambahnya.
Disela-sela rintik hujan, aku mendengar alunan musik sesekali beradu dengan air yang menghujam bumi. Musik itu berasal dari warung makan seberang, yang menyediakan fasilitas pementasan musik, itu salah satu cara untuk menarik konsumen.
Sesekali kami mengobrol agar tidak terasa dingin, karena baju juga agak sedikit basah.kami bercerita mengenai laki-laki yang Ia sukai, akulah yang mengawali pembicaraan mengenainya. Tetapi tak berlangsung lama dia memintaku untuk tidak membahas tentangnya, mungkin agak benci karena dia tidak mau menemaninya menikmati Jogja, ya laki-laki yang Ia sukai berada di kota ini mungkin juga Ia berani mengunjungi Jogja karena ingin bertemu denganya.
Aku jadi ingat, kalau si pipit belum jelas mau tidur dimana malam ini, aku segera mengambil Hp yang tersimpan di dalam tas yang agak basah itu. Menghubungi Widia, untuk memberitahu kalau pipit tidak bisa pulang ke Putihal karena kemalaman.
“Wid lg apa, boleh ga pipit nginap di rumah mu?”, tulisku melalui pesan singkat.
“iya kesini aja ja”,balasnya singkat
“ok makasih”, tambahku.
Hujan terihat lebih rendah, dibandingkan sebelumnya, hanya butiran-butiran kecil yang berpadu dengan angin, sehingga terlihat indah ketika butiran-butiran itu dipadukan dengan sinar lampu jalanan,
“pit itu kaya salju ya hujanya hihiihi”, candaku biar dia tidak bosan
“yahh, dikit sih”, jawabnya singkat.
Karena takut bosan terlalu lama menunggu, aku segera mengajaknya untuk beranjak dari tempat persembunyian, untuk melanjutkan perjalanan. Kami melewati pedagang-pedagang yang sudah siap untuk menutup daganganya, mungkin karena waktu sudah terlalu malam. Atap lapak pedagang itu melindungi kami dari butiran-butiran air dari langit. Tapi tak lama kemudian kami selesai menikmati lorong-lorong lapak itu. Sesampainya di gerbang benteng, ternyata langit mulai tak bersahabat lagi, butiran-butiran kecil yang pelan itu berubah menjadi lebih cepat temponya, tak ayal tubuh kami pun mulai disiram olehnya. Sempat kebingungan karena tidak ada bangunan, yang bisa dijadikan tempat persembunyian. Tetapi kami melihat kerumunan, di depan benteng Vredeburg, dengan langkah yang agak cepat kami segera bergabung dengan mereka. Untuk bersama-sama bersembunyi dari serangan hujan. Ternyata tidak hanya di pintu gerbang saja yang bisa dijadikan tempat persembunyian. Tepatnya di samping gerbang ada sebuah bangunan kecil tempat penjaga jaman dahulu berteduh. Bangunan kecil itu tidak luput dari kerumunan masa, tidak tanggung-tanggung sekitar 4 orang sekaligus bersembunyi disana.
Aku melihat wajah pitri mulai lelah karena agak terlalu lama dia bediri menunggu hujan reda. Sesekali dia melihat ke atas, mungkin berharap hujan segera berhenti. Kerumunan orang di depan gerbang masuk sesekali terbelah, oleh lalu lalang kendaraan yang keluar masuk benteng.
Hujan terlihat reda, kami memutuskan untuk berjalan keluar dari komplek, benteng menuju 0 KM, meski butiran-butiran air itu masih turun pelan, tak menghalangi niat kami untuk mengambil gambar di pusat kota ini.
“Pit ayo keluarin Hp mu” sahutku agak merayu
“mumpung disini loh pit, kan kamu besok pulang”, tambahku
Dia langsung mengeluarkan, Hp dari tasnya yang berwarna coklat berapadu hitam. Sesekali aku mengambil gambarnya dengan background Gedung Tua yang sekarang masih berfungsi sebagai kantor Bank BNI. Wajah yang terlihat lelah, sesekali memekarkan senyumnya, ya mungkin cukup menghibur meskipun sebentar kami berada disitu karena langit yang masih tetap tidak bersahabat. Sedang asyk-asyknya kami mengambil gambar, butiran-butiran air itu turun lebih cepat lagi. Memaksa untuk beranjak dari spot tadi, dan menyebrang menuju kantor pos tetapi disana sudah banyak orang yang berteduh, akhirnya kami memutuskan untuk bersembunyi di bawah atap pos polisi, menempel seperti cicak di dinding.
Baru kali ini aku berkeunjung ke Malioboro, dengan suguhan butiran-butiran air kemudian berpindah dari  satu tempat ke tempat lain hanya untuk menghindarinya. Sekali lagi aku melihat wajahnya mulai terlihat bosan, sepatu kami pun mulai basah karena atap kantor pos polisi itu tidak muat untuk menyembunyikan sepatu dari siraman hujan. Malam terakhir sahabatku berada di Yogya ini, dimeriahkan oleh tarian dari langit berupa hujan.
“cuacanya kaya gini terus, masih pengen ke tugu pit?”, tanya ku agak menahan dingin di kaki.
“iya gimana ya, masih pengen sih tapi hujanya gak berhentti-henti”, ujar pipit sambil memandang langit.
“ditambah waktu, yang sudah malem banget, takut si Widian udah tidur”, tambahnya .
Aku segera menghubungi widia, untuk memberitahu kami sebentar lagi pulang dan saya harap dia belum tidur, tetapi dalam pesan singkatnya dia berkata “ayoh cepet, aku sudah ngantuk banget”. Dengan alasan hujanya masih gede, kami coba menahan kantuknya. Berharap dia mau menunggu kami, yang sedang bersembunyi dari butiran hujan.
Langit mengurangi kecepatan airnya, dan kami bergegas menuju tempat parkiran yang lumayan jauh dari tempat kami berada. Meskipun cuaca yang kurang mendukung sampe tengah malam, penjajah kuliner malam pun tetap menyajikan hidangan yang menarik untuk dinikmati namun kami hanya melewatinya begitu saja karena waktu yang sudah larut malam. Setelah itu kami buru-buru naik motor, untuk pulang ke rumah Widia. Kami tidak jadi ke Tugu Jogja, karena melihat situasi dan kondisi yang kurang mendukung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar