Malam terakhir sahabatku berada di Yogyakarta. sebut saja Pipit Dia
datang dari daerah yang cukup jauh, kota Batam tepatnya. Dengan menaiki burung
besi, berniat menikmati kota yang terkenal dengan wisatanya. aku ingin
menemaninya menikmati malioboro saat malam, yang tentu berbeda suasananya ketika siang.
“ Mas ayo katanya ke malioboro jadi ga?” tanya pipit melalui pesan
singkat.
“Iya bentar, ini aku lagi nganter temen pulan dulu”, jawabku agak
terburu-buru.
Selesai mengantar teman kampus, aku langsung meng-geber sepeda
motorku, karena mengejar waktu yang menunjukan pukul 20:10. Sesekali aku
berjalan merayap karena kebetulan malam minggu, ya tau sendiri banyak muda-mudi
yang keluar ingin menikmati malam minggu.
Setelah aku sampai di tempat sahabat aku, rupanya dia sudah dalam
keadaan siap. Dengan ekspresi yang agak cemberut karena mungkin lama menunggu,
akupun segera menyuruhnya untuk segera naik karena waktu saat itu sudah
menunjukan pukul 21:00. Bukan karena takut semakin malam Yogyakarta semakin
sepi, tetapi aku dengar ibu kos temanya itu tidak suka kalau ada penghuninya
pulang larut malam.
Rute malam ini kami ingin menikmati malam minggu di malioboro,
kemudian tujuan akhirnya mengunjungi Tugu
Jogja. Belum sampai di tempat tujuan, ternyata pipit mendapatkan pesan singkat
dari temanya nyiputihal “ sory pit, ibu kosku tadi marah-marah karena tadi dia
liat km keluar, sebaiknya km nginep di tempat widia maaf banget”,
pesan singkat itu membuat pipit bingung, “ gimana ni mas, aku mesti
tidur dimana?”, tanyanya terlihat gelisah.
“masa aku mesti tidur di jalan”, tambahnya
“tenang pit, kan masih banyak teman nanti aku yang ngatur”, jawabku
sembari menenangkanya
Putihal, widia, maupun pipit adalah sama-sama teman SMA ku dulu di
Indramayu. Kebetulan di jogja banyak alumni yang melanjutkan kuliah disini.
Kami terus melanjutkan perjalanan melewati tugu jogja, aku tau si
pipit pengen banget berhenti tapi aku
berniat setelah dari malioboro baru kita explore Tugu jogja, biar agak
sepian.
Sampailah kami di lampu merah terakhir menuju Malioboro, setelah
itu ada penunjuk jalan arah panah kiri mengarah ke malioboro, dan kanan ke arah
Sarkem (Pasar Kembang). Seperti biasa malioboro tidak pernah sepi dari pecandunya,
baik untuk wisata kuliner maupun hanya menikmati suasana malam di salah satu
ikon jogja ini, terlihat hampir sepanjang jalan banyak orang-orang yang
menjajakan daganganya ada yang kuliner, pakaian dan sebagainya. Pengamen pun
tak luput meramaikan suasana malam di Malioboro. Belum sempat aku memarkirkan
kuda besi ku, aku merasa ada sesuatu yang dirasakan oleh kulit tanganku, seuatu
yang aku khawatirkan menjadi kenyataan. Langit malam saat itu memang mendung, meskipun
aku mencoba untuk mempercayai kata-kata “mendung tak berarti hujan”, tapi
kata-kata itu seolah luntur dari pikiranku, sejalan dengan tetesan air hujan
yang melunturkan keringat di tanganku. Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya
tubuh kami menyerah pada hujan dan segera mencari tempat parkir, agar bisa
sekalian berteduh.
Terlihat, orang-orang berkerumun. Bukan sedang meributkan sesuatu,
mereka hanya mengobrol satu sama lain sembari menunggu hujan reda, mungkin
mereka satu rombongan. Pedagang-pedagang sibuk memasang penutup atap untuk
mengamankan daganganya. Kami duduk di samping depan pasar Bring Harjo.
“ya semoga hujanya bentar aja ya pit, biar bisa ke 0 KM”, kata ku
sambil menggosok, kedua telapak
tanganku.
“iya mas, aku juga ngarepnya gitu”, ujar pitri penuh harap.
“masa malam terakhir di jogja, kita dihujanin ya”, tambahnya.
Disela-sela rintik hujan, aku mendengar alunan musik sesekali
beradu dengan air yang menghujam bumi. Musik itu berasal dari warung makan
seberang, yang menyediakan fasilitas pementasan musik, itu salah satu cara
untuk menarik konsumen.
Sesekali kami mengobrol agar tidak terasa dingin, karena baju juga
agak sedikit basah.kami bercerita mengenai laki-laki yang Ia sukai, akulah yang
mengawali pembicaraan mengenainya. Tetapi tak berlangsung lama dia memintaku
untuk tidak membahas tentangnya, mungkin agak benci karena dia tidak mau
menemaninya menikmati Jogja, ya laki-laki yang Ia sukai berada di kota ini mungkin
juga Ia berani mengunjungi Jogja karena ingin bertemu denganya.
Aku jadi ingat, kalau si pipit belum jelas mau tidur dimana malam ini,
aku segera mengambil Hp yang tersimpan di dalam tas yang agak basah itu.
Menghubungi Widia, untuk memberitahu kalau pipit tidak bisa pulang ke Putihal
karena kemalaman.
“Wid lg apa, boleh ga pipit nginap di rumah mu?”, tulisku melalui
pesan singkat.
“iya kesini aja ja”,balasnya singkat
“ok makasih”, tambahku.
Hujan terihat lebih rendah, dibandingkan sebelumnya, hanya
butiran-butiran kecil yang berpadu dengan angin, sehingga terlihat indah ketika
butiran-butiran itu dipadukan dengan sinar lampu jalanan,
“pit itu kaya salju ya hujanya hihiihi”, candaku biar dia tidak
bosan
“yahh, dikit sih”, jawabnya singkat.
Karena takut bosan terlalu lama menunggu, aku segera mengajaknya
untuk beranjak dari tempat persembunyian, untuk melanjutkan perjalanan. Kami
melewati pedagang-pedagang yang sudah siap untuk menutup daganganya, mungkin
karena waktu sudah terlalu malam. Atap lapak pedagang itu melindungi kami dari
butiran-butiran air dari langit. Tapi tak lama kemudian kami selesai menikmati
lorong-lorong lapak itu. Sesampainya di gerbang benteng, ternyata langit mulai
tak bersahabat lagi, butiran-butiran kecil yang pelan itu berubah menjadi lebih
cepat temponya, tak ayal tubuh kami pun mulai disiram olehnya. Sempat
kebingungan karena tidak ada bangunan, yang bisa dijadikan tempat persembunyian.
Tetapi kami melihat kerumunan, di depan benteng Vredeburg, dengan langkah yang
agak cepat kami segera bergabung dengan mereka. Untuk bersama-sama bersembunyi
dari serangan hujan. Ternyata tidak hanya di pintu gerbang saja yang bisa
dijadikan tempat persembunyian. Tepatnya di samping gerbang ada sebuah bangunan
kecil tempat penjaga jaman dahulu berteduh. Bangunan kecil itu tidak luput dari
kerumunan masa, tidak tanggung-tanggung sekitar 4 orang sekaligus bersembunyi
disana.
Aku melihat wajah pitri mulai lelah karena agak terlalu lama dia
bediri menunggu hujan reda. Sesekali dia melihat ke atas, mungkin berharap
hujan segera berhenti. Kerumunan orang di depan gerbang masuk sesekali
terbelah, oleh lalu lalang kendaraan yang keluar masuk benteng.
Hujan terlihat reda, kami memutuskan untuk berjalan keluar dari
komplek, benteng menuju 0 KM, meski butiran-butiran air itu masih turun pelan,
tak menghalangi niat kami untuk mengambil gambar di pusat kota ini.
“Pit ayo keluarin Hp mu” sahutku agak merayu
“mumpung disini loh pit, kan kamu besok pulang”, tambahku
Dia langsung mengeluarkan, Hp dari tasnya yang berwarna coklat berapadu
hitam. Sesekali aku mengambil gambarnya dengan background Gedung Tua yang
sekarang masih berfungsi sebagai kantor Bank BNI. Wajah yang terlihat lelah,
sesekali memekarkan senyumnya, ya mungkin cukup menghibur meskipun sebentar
kami berada disitu karena langit yang masih tetap tidak bersahabat. Sedang
asyk-asyknya kami mengambil gambar, butiran-butiran air itu turun lebih cepat
lagi. Memaksa untuk beranjak dari spot tadi, dan menyebrang menuju kantor pos
tetapi disana sudah banyak orang yang berteduh, akhirnya kami memutuskan untuk
bersembunyi di bawah atap pos polisi, menempel seperti cicak di dinding.
Baru kali ini aku berkeunjung ke Malioboro, dengan suguhan
butiran-butiran air kemudian berpindah dari
satu tempat ke tempat lain hanya untuk menghindarinya. Sekali lagi aku
melihat wajahnya mulai terlihat bosan, sepatu kami pun mulai basah karena atap
kantor pos polisi itu tidak muat untuk menyembunyikan sepatu dari siraman hujan.
Malam terakhir sahabatku berada di Yogya ini, dimeriahkan oleh tarian dari langit
berupa hujan.
“cuacanya kaya gini terus, masih pengen ke tugu pit?”, tanya ku
agak menahan dingin di kaki.
“iya gimana ya, masih pengen sih tapi hujanya gak berhentti-henti”,
ujar pipit sambil memandang langit.
“ditambah waktu, yang sudah malem banget, takut si Widian udah
tidur”, tambahnya .
Aku segera menghubungi widia, untuk memberitahu kami sebentar lagi
pulang dan saya harap dia belum tidur, tetapi dalam pesan singkatnya dia
berkata “ayoh cepet, aku sudah ngantuk banget”. Dengan alasan hujanya masih
gede, kami coba menahan kantuknya. Berharap dia mau menunggu kami, yang sedang
bersembunyi dari butiran hujan.
Langit mengurangi kecepatan airnya, dan kami bergegas menuju tempat
parkiran yang lumayan jauh dari tempat kami berada. Meskipun cuaca yang kurang
mendukung sampe tengah malam, penjajah kuliner malam pun tetap menyajikan
hidangan yang menarik untuk dinikmati namun kami hanya melewatinya begitu saja
karena waktu yang sudah larut malam. Setelah itu kami buru-buru naik motor,
untuk pulang ke rumah Widia. Kami tidak jadi ke Tugu Jogja, karena melihat
situasi dan kondisi yang kurang mendukung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar